Benarkah Kita Mempunyai Pilihan?

Buku Gadis Pantai

Saat masih SMA dulu, saya yakin bahwa bagaimana kita menjalani hidup ini adalah suatu pilihan. Saking yakinnya, saya punya kutipan yang sering saya ungkapkan ketika sedang mengobrol dengan teman-teman perihal pilihan dalam hidup. Begini bunyinya:

Life is started with B (birth) and ended with D (death). Between them, there is C (choice)

Keyakinan tersebut akhirnya runtuh secara perlahan-lahan seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman. Makin banyak tempat yang saya datangi dan makin banyak pula masyarakat yang saya temui. Dari perjalanan demi perjalanan yang saya lalui lah saya menemukan kesadaran bahwasanya memiliki pilihan adalah sesuatu yang mahal.

Ada orang yang memang terlahir dalam lingkungan yang membuatnya mempunyai pilihan-pilihan dalam hidup. Saya sendiri misalnya. Sepanjang menjalani pendidikan, saya selalu berkesempatan untuk memilih mau sekolah di mana. Dalam hal makan pun saya juga punya pilihan mau makan apa, di mana, dan dengan siapa.

Di sisi lain, saya bertemu dengan orang-orang yang menjalani kehidupan berbeda dengan saya. Mereka tidak dapat memilih mau sekolah di mana karena di wilayahnya hanya ada satu sekolah untuk setiap jenjang (SD-SMA). Terbatasnya sumber daya membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan makanan.

Memiliki pilihan tampaknya adalah suatu kemewahan dan tampaknya keadaan yang seperti ini sudah ada sejak dahulu kala. Salah satu contohnya bisa kita dapati dari kisah seorang gadis pantai dalam buku berjudul Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Sebuah buku yang dapat memberi sedikit gambaran tentang kehidupan khususnya di Pulau Jawa pada era kolonialisme Hindia-Belanda. Meski fiksi, saya kira gambaran yang ditampilkan di sana tetaplah relevan untuk dijadikan rujukan. Tentunya kita tetap perlu merujuk pada sumber-sumber lainnya supaya gambaran yang diperoleh menjadi lebih lengkap.

Gadis pantai adalah anak dari keluarga nelayan yang miskin. Ia tumbuh besar di tepi laut. Sejak kecil, ia terbiasa membantu ayah dan ibunya. Ia menjalani kehidupan seperti anak nelayan lainnya. Mengurus jala, menjemur ikan, dan kegiatan-kegiatan anak nelayan lain pada umumnya. Semua berjalan dengan biasa saja sampai akhirnya datang sebuah lamaran dari seorang priyayi di kota. Tampaknya, kabar mengenai kecantikan yang dimilikinya telah sampai ke telinga seorang pembesar. Ia pun dinikahi (untuk sementara) oleh seorang priyayi dan kemudian pindah ke kota untuk ikut suaminya.

Membaca kisah hidup gadis pantai membuat saya berpikir keras. Kenapa dia tidak melawan? Kenapa orang tuanya tidak menolak lamaran? Kenapa dia harus menerima saat diceraikan?

Jawabannya, dia tidak mempunyai pilihan. Warga kampung nelayan di mana gadis pantai dibesarkan sepertinya memang tidak pernah punya pilihan. Mereka lahir, belajar berjalan, belajar mengangkut ikan, belajar melaut bagi yang pria, menikah dengan tetangga, kemudian melahirkan anak untuk menjadi nelayan lainnya. Demikian seterusnya. Pindahnya gadis pantai ke kota pun tidak atas pilihannya sendiri. Mungkin satu-satunya pilihan yang dia miliki adalah ketika diceraikan ia tidak pulang ke kampungnya tetapi memilih pergi ke Blora. Itu pun lebih karena ia merasa terlalu malu untuk pulang dan kebetulan ia memiliki kenalan di Blora. Apakah itu juga termasuk sebuah pilihan?

Pertanyaan pun berlanjut, sebenarnya apa itu pilihan? Apakah benar kita memilikinya? Dan apakah kita benar-benar memerlukannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *