Awet Muda Tampaknya Tidak Semenyenangkan Kelihatannya

benjamin button

Pernah suatu ketika ayah saya membicarakan adik dari almarhumah nenek yang sekarang sudah almarhum. Saya memanggilnya dengan sebutan kakek. Saat itu, ayah saya mengatakan bahwa kakek kerap merasa kesepian. Kakek memiliki cucu dan anak yang baik dan sangat menyayanginya. Meski demikian, ada momen-momen yang dapat membuat kakek begitu merasa kesepian.

Hidup Muda Selamanya Apa Enaknya?

Di antara momen tersebut adalah momen saat mendengar pengumuman bahwa ada warga kampung yang meninggal. Kata ayah saya, kakek merasa kesepian karena beliau sudah tidak banyak memiliki teman seumuran dengannya. Usianya memang panjang melebihi rata-rata usia warga kampung. Hal inilah yang membuat kakek menjadi saksi dari kepergian teman-temannya. Tak hanya itu teman-temannya, kakek juga menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang yang berusia lebih muda darinya pergi. Kakek merasa kesepian. Tak banyak warga kampung sesenior dirinya. Tak banyak teman yang bisa diajaknya berbagi cerita nostalgia. Bercerita kepada anak cucu memang menyenangkan. Saya sendiri sangat menikmati setiap perbincangan dengannya. Namun saya sadar bahwa ada jarak yang memisahkan kami. Kami datang dari generasi yang berbeda dengan perspektif dan pengalaman yang berbeda pula. Jarak ini membuat perbincangan kami seringkali menjadi satu arah alih-alih dua arah. Saya lebih banyak menjadi pendengar.

***

Beberapa waktu lalu saya menonton The Curious Case of Benjamin Button. Film ini dibintangi oleh Brad Pitt dan pertama kali ditayangkan pada tahun 2010. Film ini menceritakan kehidupan seorang Benjamin Button yang berbeda dengan kehidupan orang-orang pada umumnya. Ia terlahir tua dan seiring bertambahnya usia, ia menjadi semakin muda. Di akhir film, dikisahkan Benjamin wafat dalam wujud seorang bayi.

Film ini membuat saya banyak merenung. Saya mendapati banyak orang-orang yang saya kenal tidak ingin menjadi tua. Sesuatu yang sejauh ini memang tidak menyenangkan. Tidak ada lagi uang jajan dari orang tua, banyak pertanyaan yang menganggu seperti “kapan nikah?”, dan beberapa hal tidak menyenangkan lainnya. Mendapati kenyataan betapa tidak menyenangkannya menjadi tua, tidak salah jika banyak teman saya (termasuk saya) yang merindukan masa kanak-kanak.

Benjamin Button

Menyaksikan kehidupan seorang Benjamin Button awalnya memang menyenangkan. Ia menjadi makin muda di saat orang di sekitarnya menua. Ia menjadi semakin gesit di saat teman-temannya melambat. Rambutnya tumbuh makin lebat di saat rambut rekan-rekannya kian tipis.

Baru di bagian akhir film lah kita disuguhi dilema yang membuat saya memikirkan ulang konsep awet muda. Bagaimana cara Benjamin akan membesarkan anaknya jika ia menjadi makin muda di saat anaknya tumbuh jadi remaja? Benjamin memutuskan untuk meninggalkan pasangan dan anaknya. Keputusan yang dari satu sisi memang jahat tetapi merupakan keputusan yang tepat di sisi lain.

Benjamin terus bertambah muda sampai menjadi bayi di saat pasangannya yang ditinggalkannya mulai tinggal di panti jompo. Pemandangan yang sungguh mengguncang saya ketika Daisy versi nenek-nenek menggendong Benjamin dalam wujud bayi. Saya begitu terguncang dan mendadak teringat apa yang dialami kakek saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *