Blood Diamond yang Dipenuhi Darah Juga Air Mata

review film blood diamond

Saat masih kuliah dulu, saya ingat pernah memasuki kelas dari mata kuliah Politik dan Pemerintahan Afrika. Salah satu isu yang dibahas saat itu adalah tentang sumber daya alam di Afrika yang menjadi rebutan banyak sekali pihak. Saking banyaknya pihak yang ingin menguasai, tak jarang nyawa menjadi harganya.

Jika kita mau melihat sejarah ‘penjarahan’ sumber daya alam Afrika, kita akan mendapati catatan tentang kekejaman Raja Leopold II yang tak segan-segan memotong tangan orang-orang Afrika supaya mereka terus patuh kepadanya. Demi mendapatkan karet mentah, tangan-tangan orang Afrika yang jumlahnya entah berapa itu harus terpotong.

Sebuah kengerian yang seolah hanya dapat terjadi di negeri dongeng saja. Padahal, hal tersebut sungguh benar kejadiannya. Karenanya, saat akhirnya saya menonton film Blood Diamond, saya tidak terlalu kaget melihat adegan yang disuguhkan di dalamnya.

Blood Diamond yang Sungguh Brilian

Film Blood Diamond sudah cukup lama masuk dalam daftar tonton saya. Seorang temanlah yang merekomendasikannya. Dia mengatakan betapa saya harus menonton film Blood Diamond karena dia sangat yakin saya akan suka dengan isu yang diangkat di dalamnya. Hal yang kemudian saya amini setelahnya. Saya sangat suka film ini dan akan merekomendasikannya ke teman saya yang lainnya.

Film ini membicarakan tentang bagaimana perjalanan sebuah berlian sebelum sampai ke tangan pembeli. Di balik indahnya batu berlian yang sering dijadikan cincin pernikahan tersebut, tersimpan cerita yang tak jarang melibatkan darah bahkan nyawa.

Kisah perjalanan berlian dalam film ini bisa dibilang cukup kompleks di mana ia melibatkan seorang pemburu berlian, pasukan pemberontak, tentara pemerintah, penadah, dan banyak lagi pihak lainnya. Menonton film ini mungkin dapat mengakibatkan kita jadi lebih berhati-hati dalam membeli sesuatu. Jangan-jangan, apa yang selama ini kita miliki dan bangga-banggakan juga menyimpan kepedihan di balik proses keberadaannya? Siapa tahu?

Leonardo DiCaprio Memang Ahlinya

Menyaksikan adegan DiCaprio yang memerankan tokoh Danny Archer menahan luka adalah sebuah kenikmatan. Saya tidak suka dan tidak kuat melihat darah di dunia nyata. Akan tetapi, dalam sebuah film saya sering kali memberikan perhatian lebih. Saya suka mengamati bagaimana si aktor memerankan adegan menahan sebuah luka. Dan saya pikir DiCaprio memerankannya dengan sangat baik. Saya bahkan percaya jika memang begitulah raut wajah seorang pria yang sedang menahan sakitnya luka tembak.

Saya sangat mengagumi DiCaprio. Sepanjang film, saya mencoba untuk selalu fokus memperhatikan gerak-geriknya. Saya memperhatikan bagaimana ia melafalkan bahasa Inggris dalam logat setempat. Saya memperhatikan bagaimana caranya menatap lawan mainnya. And yeah, he’s one of my favorite actors ever.

Alam Afrika yang Indah

Satu poin lain yang saya salut dari film ini adalah setting tempatnya. Banyak dari teman saya yang beranggapan bahwa Afrika hanyalah berupa padang pasir kering di mana tidak banyak pepohonan yang bisa dijumpai. Hal yang tidak dapat disalahkan juga sebenarnya karena memang Afrika mempunyai padang pasir luas dan salah satu yang terbesar di dunia.

Akan tetapi, Afrika tidak hanya padang pasir kok. Afrika juga mempunyai hutan hijau seperti yang ada di Indonesia. Dan salah satu negara Afrika yang mempunyai hutan adalah Sierra Leone, negara yang menjadi latar belakang berlangsungnya film Blood Diamond.

Saya sangat menyukai film yang disutradarai oleh Edward Zwick ini. Film Blood Diamond yang melempar ingatan saya pada kehidupan masa kuliah di mana saya banyak mengikuti diskusi. Seseungguhnya saya jadi menyesal kenapa baru menonton film ini sekarang setelah bertahun-tahun saya lulus. Ah sudahlah, penyesalan memang menyebalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *