The Pianist adalah Film yang Mengerikan

review film the pianist

Manusia adalah makhluk yang berbahaya. Bagaimana tidak? Silakan saja simak buku sejarah yang bisa ditemukan di mana-mana. Di sana kita akan menemukan kekejaman bertajuk perang dunia I dan II. Jika ditarik lebih jauh lagi, ada banyak perang lainnya seperti perang sipil di Amerika Serikat dan ada pula perang seratus tahun. Dalam setiap perang tersebut, ada kekejaman yang seringkali luput dari perhatian.

Sudah baca buku dan masih tidak percaya bahwa manusia merupakan makhluk berbahaya? Coba simak beberapa penggambaran kekejaman manusia yang dituangkan dalam banyak film seperti Schindler’s List misalnya. Atau kalau masih kurang, coba saja simak The Pianist.

review film the pianist
sumber gambar: joblo.com

The Pianist yang Mengerikan

Dari sekian judul film yang membahas tentang perang dunia kedua, saya memutuskan untuk menonton film The Pianist. Sebelum menonton film The Pianist, teman baik saya tidak hentinya memberi peringatan betapa ‘keras’nya film ini. Sesuatu yang saya perhatikan betul karena dia banyak benarnya, sejauh ini. Peringatan tersebut jugalah yang membuat saya menunda untuk menonton film ini selama berbulan-bulan lamanya. Saya merasa belum siap dan tidak tahu kapan akan siapnya. Menonton Schindler’s List ternyata masih menyisakan trauma dalam diri saya. Alhasil, saya cenderung menghindari film yang topiknya menyerempet isu holokaus.

Sebagaimanapun saya berupaya menghindari film The Pianist, rasa penasaran akhirnya tidak terbendung lagi. Saya memutuskan untuk merasa yakin. Saya ingin menontonnya dan membuktikan segala kengerian yang diancamkan pada saya. Saya akhirnya menontonnya dan teman saya benar belaka. Film ini sungguh-sungguh mengerikan. Segala peringatan yang pernah disampaikan semuanya menjadi nyata. Saya menggigil ketakutan sepanjang film diputar.

Film The Pianist bercerita tentang seorang pianis yang berjuang mempertahankan hidupnya di tengah kecamuk perang dunia kedua. Ia, seorang Yahudi, yang saat itu bermukim di Polandia harus menghadapi kekejaman Nazi. Ia harus merasakan tinggal di Ghetto bersama orang-orang Yahudi lain. Awalnya, ia masih dapat tinggal bersama keluarganya sebelum Nazi memutuskan untuk memisahkan mereka.

Dari hidup bersama keluarga, Wladek (tokoh utama film ini) harus menjalani kehidupannya seorang diri. Meski sendirian, awalnya ia masih hidup bersama beberapa rekan senasib. Waktu pun berlalu, ia memutuskan untuk kabur dan meminta bantuan kepada temannya yang memiliki nasib lebih mujur. Dari sana, ia akhirnya benar-benar tinggal sendirian sampai pada suatu masa ketika ia ditolong oleh seorang Perwira Nazi dan kemudian perang pun berakhir.

Sepanjang film, kita akan disuguhkan dengan kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh tentara Nazi kepada tawanannya. Ada banyak tembakan, ledakan, dan teriakan yang sungguh lantang dan berhasil membuat saya gemetaran.

Oiya saya lupa mengabarkan bahwa film ini diangkat dari pengalaman pribadi Wladek yang ia tuangkan ke dalam sebuah buku.

Kostum yang Memanjakan Mata

Ada satu detil yang membuat saya menggemari film ini. Kostum yang dipakai oleh para pemeran baik pemeran utama maupun pemeran figuran benar-benar membuat saya puas. Saya memang bukan ahli perkostuman tetapi saya rasa kostum yang digunakan dalam film ini benar-benar menggambarkan keadaan saat itu. Tak hanya itu, kostum Wladek terlihat benar-benar lusuh seperti pakaian yang telah digunakan selama berbulan-bulan tanpa diganti. Entah memang pakaiannya telah dikenakan selama berbulan-bulan atau ada cara khusus dalam menciptakannya. Intinya, saya sangat menyukai kostum yang dikenakan para pemerannya.

Kesempurnaan di Balik Kehancuran

Siapa yang menyukai barang-barang hancur? Hmm, mungkin tidak banyak memang tetapi dalam film ini rasanya barang yang digunakan haruslah hancur. Kehancuran ada di mana-mana. Hal yang wajar karena situasi sedang perang. Ada banyak detil latar belakang yang saya suka dan yang menjadi favorit adalah ketika Wladek berjalan sendirian di tengah-tengah puing bangunan. Di sana ia terlihat sangat kecil di antara gedung-gedung yang hampir roboh. Sungguh detil yang memanjakan mata. Terasa seperti sebuah oase di tengah kengerian perang yang senantiasa disajikan sepanjang jalannya cerita.

Bagi Anda yang menyukai film bertemakan perang dunia, film The Pianist sebaiknya jangan sampai Anda lewatkan. Usahakan untuk menonton film ini apapun yang terjadi. Oiya, cobalah untuk menyediakan audio yang memadai supaya pengalaman menonton film ini menjadi makin maksimal. Selamat menonton!

2 thoughts on “The Pianist adalah Film yang Mengerikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *